Doa,betapa istimewanya. Terlebih,jika kita memaknai doa sebagai ruang pribadi di mana kita membangun komunikasi dengan Allah,tempat mengadu. Ruang ini berdimensi sakral degan waktu2 khusus yang kita unggulkan. Di penghujung malam, dalam keheningan, suara lirih mengalir, membumbung naik,menembus arsy. Beraneka harapan dan pinta didalamnya. Dalam sakralnya doa,apapun yang kita ucapkan pasti berkaitan dengan kehidupan kita. Orang2 yang kita sebut didalamnya tentu orang istimewa. Org2 yang sengaja kita hadirkan keberadaannya saat kitars dkt dgn Dzat yg maha mngblkn
Ada iklan yang menarik sore hari itu. Seorang anak kecil bercita-cita menjadi seorang dokter, polisi, dan saya lupa apalagi. Nah, di iklan tersebut mereka bilang seperti ini: ‘Aku ingin menjadi dokter yang hafal Al-Qur’an’, ‘Aku ingin menjadi dokter yang hafal Al-Qur’an’.
Wah,iklan yang sangat inspriratif bangeett..
Tidak hanya bercita-cita untuk dunia aja tapi untuk akhiratnya juga ga ketinggalan..Hebatnyaaa :D
Mari berdoa untuk kehidupan dunia dan akhirat. Jangan cuma dunia aja
Beranikah kita berkata seperti anak-anak kecil yang masih polos di iklan tersebut?
Tapi kita bercita-cita bukan hanya untuk iklan tapi untuk kehidupan yang sebenarnya..
….Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (Al-Baqarah 200).
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (Al-Baqararah 201).
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Hujan Bulan Juni Sapardi Djoko Damono
tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Berapakah luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada setiap lelaki, untuk dimaknai, dihidupkan, lalu diabadikan? Apakah manusia, dalam perhitungan sejarah, memaknai dirinya dengan waktu atau biaya?
Sejarah, pada mulanya, menggunakan deret ukur waktu. Di sini, setiap manusia menjadi setetes air di laut sejarah. Setetes air itu bernama umur. Dan kumpulan tetes-tetes itu disebut sejarah: Kita semua adalah sejarah. Tak ada yang lepas daripadanya.
Air itu selalu mengalir. Sejarah pun begitu. Ia adalah sebuah suasana mengalir yang tak pernah selesai. Ia hanya akan berhenti pada sebuah tempat yang kita sebut Padang Mahsyar. Tapi kemanakah sejarah mengalir? Dan mengapa selalu ada riak dan gelombang? Pernahkah engkau menanyakan, siapakah tetes-tetes air yang menjadi riak itu? Dan siapakah tetes-tetes air yang menjadi gelombang itu?
Riak-riak itu adalah tetes-tetes yang menyatu dalam laut sejarah karena waktu. Dan gelombang itu, itulah lelaki-lelaki sejarah. Tak semua air menjadi gelombang, sekalipun semuanya punya peluang yang sama untuk menjadi gelombang. Lalu apakah yang membuat tetes air itu menjadi gelombang?
Angin!
Inilah yang menanamkan ‘kehendak’ pada tetes-tetes air itu untuk majadi gelombang. Ketika ‘sentuhan’ angin itu menguat, gelora kehendak juga akan menciptakan gelombang yang dahsyat. Angin itu adalah iman. Iman, terserah ia diberikan kepada kebenaran atau kebatilan, adalah rahasia di balik semua keajaiban sejarah. Iblislah yang menanamkan iman kepada kebatilan dalam diri manusia, hingga ia berkehendak menciptakan daulatul bathil. Dan rasul-rasul, sepanjang sejarah, adalah utusan Allah yang bertugas menanamkan iman kepada kebenaran dalam diri manusia, hingga lahirlah daripadanya daulatul haq.
Semua manusia besar yang pernah hadir dalam sejarah, kata Sayyid Quthb, selalu mempunyai kelebihan yang amat menonjol pada kekuatan jiwa. Rahasia ini pula yang kita tangkap dari strategi Rasulullah saw ketika beliau ingin melahirkan pemimpin-pemimpin baru bagi manusia. Apa yang paling menonjol pada sahabat-sahabat Rasulullah saw bukan terutama kecerdasan, sekalipun itu ada, tapi adalah iman.
Kata iman, dalam pembahasan Al-Qur’an, selalu membawa nuansa ‘gerak’ yang amat dalam. Iman adalah landasan abadi di atas mana akal melaju menaiki tangga menuju angkasa. Iman adalah rahasia darimana raga memperoleh kekuatan yang tidak diketahuniya. Kekuatan gerak pribadi bermula ketika iman merasuki jiwa, menggelorai hati, lalu bergemuruh pada setiap sisi instrumen kepribadian kita. Bila keadaan yang sama merasuk ke dalam jiwa dan hati sebuah masyarakat secara kolektif, engkau niscaya akan menemukan gelombang dahsyat dalam sejarah.
Setiap kita, para lelaki, selalu akan memperoleh tempat dalam sejarah, bila kita mau membentangkan benag merah yang menjalin gemuruh kehendak dalam jiwa dengan gemuruh gerak ombak dalam laut sejarah.
Maka saat-saat ‘pasang’ dalam sejarah Islam, kata Syekh Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi, selalu bergerak sejajar dengan iman. Dan saat-saat ‘surut’ sebaliknya, selalu bergerak sejajar dengan kelemahan iman.
Anis Matta : Arsitek Peradaban 2006: hal 72-74.